Akhir akhir ini media banyak memberitakan banyak anak dan remaja yang mengalami adiksi gadget, game, dan internet sampai mengalami masalah dan gangguan kejiwaan.

 

Wabah COVID-19 telah memberikan suatu dampak besar bagi kehidupan setiap orang di dunia. Ratusan juta orang di seluruh dunia diharuskan untuk tinggal di rumah untuk melindungi diri dari penularan penyakit ini, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, dan juga lansia

 

Sejak awal tahun,  anak – anak dan mahasiswa tidak bersekolah dan harus  mengikuti pembelajaran jarak jauh melalui internet lewat layar komputer, gadget, televisi (Study from home). Hal ini akan dilakukan juga di tahun ajaran baru yang sebentar lagi akan dijalani.  Hal yang sama juga terjadi pada anak kuliah dan mereka yang kerja dari rumah (WFH=working from home). Akibat dari ini semua adalah meningkatnya risiko penggunaan gadget/internet yang berlebihan terutama pada anak anak dan remaja. WHO (World Health Organization) sudah memberikan peringatan akan adanya risiko ini.

 

■ RISIKO “Stay at Home”

 

○ “Unhealthy sedentary lifestyles” (pola hidup tidak sehat, kurang banyak bergerak), tidur yang kurang, berubahnya pola tidur dan bangun, olah raga/aktivitas fisik yang kurang, pola makan/nutrisi yang terganggu, sakit kepala, nyeri leher akibat terlalu lama melihat layar

○ Konten di internet yang berbahaya seperti kekerasan dan seksual

○ Informasi yang salah atau berlebihan tentang Covid-19 yang bisa memicu masalah kejiwaan seperti cemas, depresi, trauma psikologis

○ “Cyber Bullying” yang dilakukan di media sosial, game online interaktif

○ Terjadi Gaming Disorder (gangguan kecanduan game/internet)

○ Risiko menghabiskan uang lewat judi online, membeli loots, power, ability secara online saat game online

 

■ Tanda-Tanda Penggunaan Gadget/Internet  Berlebihan :

 

○ Kemampuan fokus, konsentrasi dan memori menjadi menurun, suatu pekerjaan yang sebelumnya mudah dan cepat dilakukan menjadi susah dan lebih lama diselesaikan.

○ Terdapat efek negatif pada pola relasi dengan teman dan keluarga, mudah emosi, sensitif, baper (bawa perasaan).

○ Fungsi hidup dasar yang penting seperti makan, tidur, perawatan diri dan olah raga/akitivitas fisik tergantikan oleh penggunaan gadget/internet yang berlebihan

○ Marah secara verbal dan fisik ketika diminta untuk mengurangi atau memberhentikan penggunaan gadget/internet

 

■ Rekomendasi Waktu Melihat Layar (Screen Time) yang sehat :

 

– Bayi < 1 tahun : Tidak direkomendasikan melihat layar gadget

– Anak 2 – 4 tahun : < 1 jam /hari

– Pada anak yang lebih besar : mengatur penggunaannya, biasanya tidak lebih dari 3 jam.

 

■ Tips Menggunakan Gadget/Internet selama Pandemi :

 

○ Tingkatkan pengetahuan dan informasi pada anak bagaimana menggunakan internet yang sehat selama Pandemi, seperti waktu penggunaan, durasi, priotitas, konten yang dilihat.

○ Usahakan ada keseimbangan antara aktivitas online dan offline, ciptakan kegiatan kegiatan fisik yang positif dan menyenangkan di rumah.

○ Buat aturan yang jelas mengenai penggunaan gadget/internet : Kapan, dimana, bagaimana ? Dan diikuti oleh semua anggota keluarga.

○ Komunikasikan aturan dan batasan tersebut dengan jelas sampai anak mengerti.

○ Install perangkat lunak terbaru, anti virus, aktifkan “privacy settings” ke “tinggi”, aktifkan “parental control” pada gadget.

○ Dorong anak untuk selalu melakukan aktivitas fisik secara aktif

○ Ingatkan anak-anak  bahwa menonton televisi dan melakukan aktivitas online adalah salah satu opsi untuk mengisi waktu dan sampaikan bahwa ada  pilihan lain untuk bersenang-senang mengisi waktu seperti memasak bersama, membaca, permainan  (board game), menyanyi, karaoke bersama, menari, dan berolahraga.

○ Jelaskan mengapa batasan waktu melihat layar / aktivitas daring dilonggarkan, bahwa setiap waktu melihat layar tambahan bersifat sementara dan rutinitas normal akan dilanjutkan setelah pandemi berakhir dan pembatasan selesai.

○ Ajarkan anak-anak untuk waspada tentang penipuan cyber dan bagaimana mencari dukungan ketika menghadapi masalah ini.

○ Pertahankan rutinitas tidur yang teratur untuk anak-anak dan  pola makan yang sehat.

 

■ Waspada Adiksi Gadget/Internet/Game

 

Penelitian yang dilakukan oleh Kristiana, dkk tahun 2019 menunjukkan bahwa 31,4 % remaja memiliki risiko untuk mengalami adiksi internet. Pada remaja perempuan, 7 dari 10 berisiko kecanduan media sosial. Sementara pada remaja laki-laki, 7 dari 10 anak berisiko untuk kecanduan games online.  Kecanduan internet ditandai dengan penggunaan internet berlebihan akibat kurangnya kemampuan dalam pengendalian diri, dan menganggu fungsi sehari-hari, misalnya bolos kelas, penurunan prestasi sekolah dan tidur menjadi berkurang. Anak dan remaja lebih rentan mengalami kecanduan internet karena rasa ingin tahu yang sangat besar dan bagian otak yang berfungsi untuk mengendalikan perilaku masih dalam proses perkembangan.

 

■ Gejala-gejala adiksi (kecanduan) internet/game/gadget :

 

– Berpikir terus menerus untuk bermain internet/game/gadget

– Menggunakan internet/game/gadget lebih lama dari waktu yang sudah ditentukan

– Berusaha untuk mengurangi atau menghentikan bermain namun gagal

– Membutuhkan waktu semakin lama untuk mendapatkan kepuasan saat bermain internet/game/gadget

– Menggunakan internet/game/gadget untuk mengalihkan rasa sedih, marah, kecewa

– Merasa sedih, cemas, gelisah saat tidak bermain internet/game/gadget atau saat berusaha mengurangi, memberhentikannya

– Memiliki masalah di sekolah, dengan teman, guru, orang tua, keluarga karena penggunaa internet/game/gadget

 

Apabila ditemukan gejala-gejala di atas segera lakukan :

– Digital Detox

– Konsultasi ke Profesional Kesehatan Jiwa seperti Psikiater, Perawat Jiwa, Psikolog, Konselor untuk mendapatkan pertolongan.

 

■ Cara Melakukan “Digital Detox ”

Melakukan digital detox berarti membatasi akses ke dunia digital termasuk media sosial, game online, googling, dll. Hal ini dapat dilakukan dengan cara :

 

– Full Digital Detox (sama sekali tidak bersentuhan dengan dunia digital)

– Partial Digital Detox (pembatasan akses dengan dunia digital untuk hal hal tertentu)

 

■ Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan waktu melakukan detox. Riset menunjukkan mengurangi akses ke media sosial 30 menit sehari saja sudah mengurangi risiko terjadinya depresi. Menentukan pembatasan waktu bisa dilakukan dengan cara :

– Tidak mengakses media sosial sama sekali selama 1 minggu, 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun. Lakukan dengan konsisten.

– Tidak mengakses medsos saat di sekolah/tempat kerja/di jalan

– 1 jam sebelum tidur mematikan gadget

– tidak menggunakan gadget di meja makan

– dll

 

■ Langkah berikutnya dalam Digital Detox adalah menghilangkan distraksi yg bisa menyebabkan kita mengakses media sosial :

 

– menghapus aplikasi media sosial di gadget, laptop, komputer

– menghilangkan notifikasi media sosial

– mematikan gadget secara berkala, misal saat di kantor, dalam perjalanan, saat di rumah

– menaruh gadget di ruangan lain, dalam lemari yg sulit terjangkau

– beraktivitas di luar tanpa membawa gadget

 

■ Teknik Melakukan Digital Detox :

 

  1. Digital Fast : tentukan limit waktu tidak menyentuh media sosial sama sekali, misal beberapa hari, minggu atau bulan
  2. Recurrent digital abstinence: pilih 1 hari dalam seminggu bebas media sosial
  3. A specific detox : apabila ada aplikasi media sosial yg benar benar membuat stres, menghabiskan waktu, tutup aplikasi tersebut.

 

■ Tips Melakukan Digital Detox :

 

– selama 1-2 minggu setelah memulai digital detox,  badan, pikiran dan perasaan akan merasa tidak nyaman, ini disebut efek ‘withdrawal’ (putus zat). Lakukan pengalihan dengan melakukan hal hal lain seperti olah raga, bermain musik, kumpul bersama teman dan keluarga.

– Beritahukan keluarga dan teman teman bahwa Anda sedang melakukan digital detox dan minta dukungan mereka

– Buatlah jurnal bagaimana Anda melakukan digital detox ini

 

Bagi kita yang mengetahui bahwa ada seseorang yang melakukan digital detox maka sebaiknya kita mendukungnya karena dia sudah memilih sebuah keputusan untuk menjaga kesehatan jiwanya. Jangan melakukan bullying, meledek atau merendahkan mereka yg melakukan digital detox karena hal itu bukan menunjukkan bahwa mereka lemah atau kurang tangguh tapi justru menunjukkan bahwa mereka tahu hal apa yg menjadi stresor dan berusaha menanggulanginya.

 

Mari kita menggunakan gadget dan internet dengan bijak selama masa Pandemi Covid-19 ini dan tetap menjalankan pola hidup yang sehat serta protokol kesehatan yang dianjurkan.

 

Salam Sehat Jiwa !

 

☆LaKe☆

 

dr.Lahargo Kembaren, SpKJ

– Psikiater, Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS.Jiwa.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here