Berita mengejutkan mengenai seorang anak remaja yang melakukan perilaku kekerasan/agresivitas yang fatal menghenyakkan kita dan menarik perhatian kita semua, bagaimana hal itu bisa terjadi?

 

Sebuah perilaku kekerasan/agresivitas adalah sebuah PROSES YG KOMPLEKS yg terjadi di dalam OTAK. Apa yg terjadi dalam otak adalah proses neurobiologi yg menyebabkan suatu perilaku kekerasan terjadi:

 

  1. Top Down (Brake/rem)

Bagian otak di area pre frontal cortex, yg berfungsi sebagai pembuat keputusan, kontrol diri.

  1. Bottom Up (Drive/gas)

Bagian otak di daerah amigdala, yg berfungsi sebagai pusat emosi, belajar perilaku.

 

Di dalam area otak ini terdapat struktur, sirkuit saraf, neurotransmiter (zat kimia di otak) dan proses fisiologisnya.

 

Kerusakan pada  sirkuit saraf di otak ini dapat menyebabkan terjadinya kegagalan pada dua area otak tersebut. Bagian otak  pre frontal cortex gagal menjalankan fungsinya mengontrol perilaku dan kontrol diri. Bagian otak amigdala menjadi hiper responsif sehingga ada triger sedikit saja langsung memicu emosional. Ini semualah yg kemudian berujung pada terjadinya sebuah perilaku kekerasan/agresivitas.

 

Apa saja yg dapat menyebabkan sirkuit otak terganggu sehingga memunculkan perilaku kekerasan?

 

– Faktor genetik dalam keluarga dengan riwayat perilaku kekerasan

– Adanya tumor otak, trauma kepala

– Gangguan metabolik, penyakit fisik

– Pemakaian alkohol, narkoba

– Riwayat menjadi korban perlakuan kekerasan, baik verbal, fisik, seksual

– Menyaksikan perilaku kekerasan dalam kehidupan sehari hari, di rumah atau lingkungan sekitar

– Menjadi korban bullying

– Paparan media mengenai kekerasan, film, games, tontonan youtube, TV, medsos, dll

– Stresor psikososial dalam kehidupan sehari hari (masalah keuangan, pertengkaran, perceraian, pendidikan, PHK, situasi tempat tinggal, dll)

 

Perilaku Kekerasan oleh Anak dan Gangguan Jiwa

 

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-V), beberapa gangguan kejiwaan yg ditandai adanya agresivitas pada anak antara lain :

 

■ Oppositional defiant disorder (ODD)

– pola suasana hati marah / mudah tersinggung, perilaku argumentatif / menantang dan / atau dengki yang berlangsung enam bulan atau lebih.

■ Conduct disorder (CD)

– pola perilaku persisten/menetap  yang melanggar hak orang lain dan aturan, seperti intimidasi, pencurian, bolos dari sekolah, lari dari rumah.

■ Disruptive mood dysregulation disorder (DMDD)

– ditandai oleh adanya ledakan kemarahan yang sering terjadi dan suasana hati yang mudah tersinggung atau depresi hampir sepanjang waktu.

■ Psikosis

– Gangguan penilaian realitas,  tidak bisa membedakan mana yg nyata dan khayalan, ditandai dengan adanya halusinasi (mendengar suara bisikan, melihat bayangan), delusi/waham (ide, pikiran yg salah tdk sesuai kenyataan, misal akan mendapat kekuatan, kehebatan bila melakukan hal tertentu)

■ Bipolar

– gangguan mood, yg ditandai dengan perubahan mood yg ekstrim dari senang berlebihan (episode manik) menjadi sedih berlebihan (episode depresi)

■ Depresi Mayor

– gangguan mood yg ditandai dengan mood yg sedih, mudah tersinggung,  tidak semangat, energi berkurang, gangguan pola tidur dan makan, fokus, konsentrasi yg menurun dan pikiran tentang kematian.

■ Ciri Kepribadian Anti Sosial

– Sebuah ciri kepribadian dengan gejala seperti sering mengabaikan dan melanggar hak orang lain, tidak memiliki empati atau rasa kasihan pada orang lain, tidak mawas diri, merasa lebih hebat dari orang lain, dan manipulatif.

 

Jenis Perilaku Kekerasan oleh Anak/Remaja yg perlu Diwaspadai :

 

○ Temper tantrum

○ Berkelahi / tawuran

○ Ancaman verbal untuk menyakiti, membunuh

○ Agresi fisik pada orang seperti memukul, menjambak, menendang, dll

○ Agresi fisik pada benda seperti merusak barang, membanting, menendang barang, dll

○ Menggunakan senjata

○ Menyiksa binatang

○ Bermain api, membakar

○ Vandalisme

 

Adanya perilaku di atas menjadi ALARM bagi kita semua ada ‘sistem’ yg tidak pas pada anak ini dan perlu dilakukan INTERVENSI segera agar tidak menimbulkan hal yg membahayakan.

 

Pencegahan perilaku kekerasan :

 

¤ Hindari anak dari perlakuan kekerasan

¤ Pendidikan seksual pada anak dan pencegahan pelecehan seksual

¤ Identifikasi dini dan penanganan anak yg melakukan perilaku kekerasan

¤  Monitoring paparan media mengenai kekerasan di TV, internet, medsos, game, video, film

¤ Memperbanyak aktivitas / kegiatan fisik pada anak yg positif, seperti olah raga, musik, organisasi, kerohanian, dll

¤ Komunikasi dan kedekatan orang tua dan anak sangat penting sehingga orang tua dapat segera tahu dan memberikan penanganan apabila anak mengalami perubahan psikologis.

 

Penanganan dan Terapi Perilaku Kekerasan/ Agresivitas oleh Anak/Remaja :

 

  • Lakukan perawatan di rumah sakit apabila ada perilaku yg membahayakan
  • Pemeriksaan psikologis dan psikiatri yg lengkap
  • Psikofarmaka, obat obatan untuk mengontrol perilaku kekerasan anak/remaja, obat suntik dan oral dapat diberikan, yaitu golongan : mood stabilizer, anti psikotik, anti depresan, anti ansietas
  • Psikoterapi, merubahn pikiran dan perilaku anak, CBT (cognitive behavior therapy), latihan regulasi emosi, latihan mengekspresikan rasa frustasi, Parent management techniques (PMT),dll
  • Rehabilitasi Psikososial, latihan latihan social skill training, cognitive remediation, Occupational-Vokasional skill training, dll

 

Pesan bagi Orang Tua :

 

Orang tua memegang peran penting terhadap munculnya perilaku kekerasan oleh anak. Pastikan anak tidak terpapar oleh berbagai peristiwa/tontonan kekerasan yg dapat mengganggu otaknya sehingga muncul perilaku yg tidak diharapkan. Berikan kasih sayang dan miliki ikatan emosi yg baik dengan anak. Tingkatkan komunikasi dengan anak sehingga orang tua dapat menjadi tempat anak berbagi saat mereka mendapatkan kesulitan, kebingungan dan frustasi dalam hidupnya.

 

Sekolah, lingkungan dan masyarakat sekitarpun punya tugas yg sama. Mari kita hilangkan perilaku kekerasan di sekeliling kita. Tebarkan KASIH!

 

Salam sehat jiwa !

 

👨‍⚕️

《LaKe》

 

dr.Lahargo Kembaren, SpKJ

– Psikiater, Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial

RS Jiwa dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

RS SILOAM Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here