24-25 June 2019, Room L.14, WHO Headquarters, Geneva, Switzerland

 

Menjadi perwakilan dari Indonesia untuk acara ini adalah sebuah kehormatan dan kesempatan yang sangat hebat. Acara yg dihadiri oleh berbagai negara seperti Indonesia, Filipina, Armenia, Turki, Estonia, Bosnia, Chechnya, Rumania dibuka oleh Dr Ren Minghui sebagai Assistant Director General, Universal Health Coverage/ Communicable and Noncommunicable Diseases, WHO/HQ.

 

Era kesehatan saat ini sangat memerlukan  TEKNOLOGI INFORMASI yang dinamis dan interaktif untuk dapat meningkatkan derajat kesehatan manusia di manapun juga. Dunia kesehatan modern perlu terus berkembang dan memberi dampak lebih luas bagi kesejahteraan manusia.

 

Demikian juga di bidang kesehatan jiwa, saat ini WHO sebagai lembaga kesehatan dunia sudah memiliki “WHO QualityRights E-training Platform”. Di Indonesia ada 200 lebih partisipan yg sudah mengikutinya secara online. E-Training ini dibutuhkan oleh semua orang terutama mereka yg bekerja di bidang kesehatan jiwa agar lebih tahu bagaimana bisa menghargai dan  memperlakukan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) sebagaimana layaknya MANUSIA.

 

Di hari pertama ini belajar banyak hal :

– Demonstration of WHO QR

– Key features of WHO QR

– Showcasing cockpit-the production tool

– Showcasing the Content Management System (CMS)

 

Setelah istirahat Lunch (bayar euy makan siangnya, nggak kayak di Indonesia kalau lunch mantap menunya dan gratis), lanjut lagi sesi berikutnya :

– Training session menggunakan ‘Transiflex Tool’ oleh Elena Morana dari coorpacademy, Paris

– latihan melakukan translate ke Bahasa Indonesia

 

Ke depannya kita sedang mempersiapkan WHO QualityRights E-Training Platform untuk Bahasa Indonesia dan harapannya ini dapat menjadi kualifikasi bagi mereka yg akan bekerja di bidang kesehatan jiwa. Sehingga lebih banyak orang yang tahu bagaimana cara TERBAIK memanusiakan manusia, yaitu orang dengan gangguan jiwa.

 

Ahh … mungkin ini hanya mimpi, bagaimana di Indonesia hak – hak orang dengan gangguan jiwa boleh dihargai dan diperlakukan dengan baik. Tapi… bukankah semua berawal dari mimpi … dan tidak lupa untuk bangun serta mewujudkannya.

 

Yukkk kita semua memulainya dengan cara cara sederhana, seperti:

– tidak menjadikan orang dengan gangguan jiwa sebagai joke, lucu lucuan, bercanda

– tidak menyebut mereka orang gil*, sint*ng, dll yg akan memberikan stigma karena mereka adalah orang yg membutuhkan pertolongan dari kita

– mulai mengasihi orang dengan gangguan jiwa dengan membawanya / menyarankan untuk mencari pertolongan ke profesional kesehatan jiwa seperti Psikiater, Perawat Jiwa, Psikolog, Dokter Umum terlatih, Pekerja Sosial, Konselor, dll

– dsb

 

“Act, Unite and Empower for Better Mental Health”

 

《LaKe》

dr.Lahargo Kembaren, SpKJ

Psikiater RS.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here