PENDAHULUAN

Gangguan bipolar merupakan penyakit yang serius. Gangguan ini dapat membuat mood seseorang yang normal dapat menjadi sangat ekstrim sehingga disebut manik depresif. Orang dengan gangguan bipolar memiliki mood yang tidak menentu (mood swing). Moodnya dapat berayun dari yang paling rendah (depresi) ke yang paling tinggi (mania). Gangguan bipolar merupakan penyakit seumur hidup tetapi dengan terapi yang ada sekarang, orang dengan gangguan bipolar dapat hidup dan beraktivitas seperti orang normal lainnya bahkan mereka dapat menjadi sangat produktif dalam kehidupan mereka.

Gangguan bipolar merupakan penyakit biologi yang berat dengan prevalensi 1% dari populasi orang dewasa. Meskipun gejala dan keparahan dari gangguan ini bervariasi tetapi gangguan bipolar selalu memiliki dampak yang besar terhadap pasien sendiri keluarga, pasangan, dan teman, serta lingkungan.2 Gangguan bipolar merupakan penyakit yang sulit diterapi karena siklusnya yang berputar, gejala residual, dan kepatuhan minum obat yang buruk.

Efek yang ditimbulkan akibat dari gangguan bipolar yang tidak diobati dapat sangat menghancurkan. Episode depresi dan mania yang merupakan karakteristik dari gangguan ini dapat membuat orang yang menderita gangguan ini tidak dapat hidup dengan stabil dan produktif. Pada fase mania, pasien dapat menjadi hiperaktif dan tidak bertanggung jawab. Pada fase depresi menjadi sangat sulit untuk mengerjakan apapun. Karena dampak dari gangguan bipolar dapat mengenai seluruh aspek kehidupan maka diagnosis dini dan terapi sesegera mungkin sangatlah dibutuhkan.

Dengan terapi, sebagian besar orang dengan gangguan bipolar menjadi mampu mendapatkan kesembuhan yang mendasar dari gejala yang mereka alami. Tetapi karena siklus mood pada pasien bipolar terjadi berulang maka pengobatan tidak hanya berfokus pada keadaan akut tetapi juga pada keadaan krisis tetapi juga perawatan jangka panjang. Rencana terapi yang komprehensif pada pasien dengan gangguan bipolar bertujuan untuk menekan gejala saat ini, mencegah episode mood berikutnya, dan mendata masalah dalam pekerjaan dan hubungan relasi yang ditimbulkan oleh penyakit ini. Rencana terapi yang menggabungkan psikoterapi dengan obat-obatan merupakan strategi yang terbaik untuk meraih tujuan di atas.

DIAGNOSIS GANGGUAN BIPOLAR

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I, episode manik tunggal
A. Terdapat hanya satu episode manik dan tidak ada riwayat episode depresi
B. Episode manik ini bukan merupakan suatu gangguan skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I, episode kini manik
A. Saat ini terdapat episode manik
B. Terdapat riwayat paling tidak 1 episode depresi mayor, manik atau campuran
C. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I, episode kini hipomanik
A. Saat ini terdapat episode hipomanik
B. Terdapat riwayat paling tidak episode manik atau campuran
C. Gejala mood menyebabkan distres dan gangguan yang nyata dalam fungsi sosial, pekerjaan dan area lainnya.
D. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I episode kini depresi
A. Saat ini terdapat episode depresi mayor
B. Terdapat riwayat episode manik atau campuran
C. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I, episode kini campuran
A. Saat ini terdapat episode campuran
B. Terdapat riwayat satu episode depresi mayor, episode manik atau episode campuran
C. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I, episode tidak tergolongkan
A. Kriteria kecuali durasi sesuai dengan eposide manik, hipomanik, campuran atau depresi mayor
B. Terdapat riwayat episode manik atau campuran
C. Gejala mood menimbulkan distres dan gangguan yang secara klinis bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan dan area penting lainnya
D. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.
E. Gejala mood pada kriteria A dan B tidak berhubungan secara langsung dengan efek psikologis penggunaan obat atau kondisi medis umum.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar II
A. Saat ini terdapat atau riwayat satu atau lebih episode depresif
B. Saat ini terdapat atau riwayat paling tidak satu episode hipomanik
C. Tidak pernah ada episode manik atau campuran
D. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.

PENATALAKSANAAN

Prinsip – Prinsip Umum

• Membangun dan mempertahankan hubungan kolaborasi dengan pasien dan keluarga.
• Menghargai pengetahuan dan pengalaman pasien tentang penyakitnya.
• Memotivasi pasien untuk melibatkan keluarga bila memungkinkan
• Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai diagnosis dan terapi yang diberikan
• Menasehatkan pasien untuk melakukan ’self monitoring’ terhadap gejala, pemicu, tanda-tanda awal, life style, sleep hygiene, bentuk pekerjaan, dan strategi koping.
• Memperhatikan kebutuhan pasien dan juga keluarga mengenai masalah relasi, keadaan fisik, sosial, dan mental
• Memberikan akses yang bisa dihubungi oleh pasien dan keluarga bila ada keadaan krisis.

Terapi fase akut

Pada fase akut dari gangguan bipolar, tujuan terapi adalah untuk menghentikan episode manik, depresif, hipomanik atau campuran yang sedang terjadi3
• Obat : Mood stabiliser adalah merupakan obat utama yang perlu diberikan pada fase akut. Untuk manik akut, obat pilihannya adalah mood stabiliser dan anti psikotik atipikal. Sedatif dapat diberikan untuk waktu yang pendek untuk mengatasi ansietas dan insomnia. Pada episode depresi dapat diberikan kombinasi antidepresan dan mood stabiliser.
• Electroconvulsive Therapy (ECT). Penggunaan ECT pada episode depresi dan mania yang parah memberikan hasil yang bermakna. Ini adalah merupakan tindakan pilihan “life saving” pada pasien bipolar yang memiliki resiko bunuh diri termasuk pada pasien dengan gejala psikotik seperti waham dan halusinasi. ECT juga merupakan pilihan pada pasien yang tidak berespon terhadap pengobatan atau tidak dapat meminumnya karena sedang hamil atau kondisi medis
• Perawatan. Apabila terdapat keadaan yang berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain maka perawatan di rumah sakit perlu dipikirkan. Rumah sakit adalah lingkungan yang aman untuk perawatan sampai moodnya menjadi stabil. Mania dan depresi mempengaruhi penilaian dan tilikan sehingga pasien tidak menyadari bahwa dirinya butuh perawatan
• Psikoterapi. Selama fase mania akut, biasanya psikoterapi hanya sedikit memberikan keuntungan. Pasien manik memiliki kemampuan yang terbatas untuk duduk dan mendengarkan terapis. Tetapi pasien dalam fase depresi memperoleh dampak yang besar dengan psikoterapi.

Terapi fase preventif dan maintenance

Pada fase preventif dan maintenan dari gangguan bipolar, fokus adalah pada memepertahankan mood yang stabil dan mencegah munculnya episode mania dan depresi. Pada banyak kasus gangguan bipolar lebih baik terkontrol apabila terapi dilanjutkan dan tidak putus.
• Obat. Pengobatan dengan mood stabiliser hampir selalu dilanjutkan meski gejala mania dan depresinya sudah terkontrol. Ketika pengobatan dilanjutkan maka akan mengurangi frekuensi dan keparahan dari episode mood dan bahkan dapat mencegah
• Psikoterapi. Terapi yang diberikan selama fase maintenance perlu dilakukan untuk mengatasi masalah dengan perasaan yang tidak nyaman, bagaimana mekasnisme koping yang dapat dikerjakan, memperbaiki hubungan relasi, memanage stres, mengatur mood.
• Edukasi. Mengatur gejala dan mencegah komplikasi dimulai dengan pengetahuan akan penyakit yang diderita. Edukasi adalah kunci yang penting dalam proses terapi. Semakin banyak yang diketahui pasien tentang bipolar akan semakin efektif kemampuan pasien untuk mengenali gejala, mencegah munculnya gejala, dan segera mendapat pertolongan
• Dukungan. Hidup dengan gangguan bipolar tidak mudah. Harus ada dukungan dan motivasi yang terus menerus diberikan oleh grup suportif.

Terapi psikologis setelah episode akut

Perlu dipikirkan intervensi psikologis seperti CBT pada pasien yang telah stabil sebagai tambahan obat yang diberikan pada pasien yang memiliki gejala efektif ringan sampai sedang. Terapi ini secara normal berlangsung selama 16 sesi. Yang menjadi bagian dari terapi ini adalah : psikoedukasi, monitor mood secara rutin dapat menggunakan mood diary, mendeteksi gejala awal yang muncul

Meningkatkan pola hidup sehat dan pencegahan relaps

Memberikan pasien pengetahuan mengenai ‘good sleep hygiene’ dan pola hidup yang teratur, resiko bila bekerja dengan sistem sift, terbang malam, melewati zona waktu, dan bekerja dalam waktu yang lama. Memberikan dukungan setelah kejadian yang berarti seperti kehilangan pekerjaan, proses duka cita.

Ilustrasi Kasus

Seorang perempuan berumur 34 tahun, agama Kristen, belum menikah. Dari anamnesis didapatkan keluhan gampang teralihkan perhatiannya dan tidak bisa fokus pada pekerjaan. Mood pasien sering naik turun, kadang-kadang sering naik yang mengakibatkannya punya energi berlebih sehingga bisa melakukan apa saja, perilaku beresiko, belanja, membagikan barang, tidur yang tidak teratur. Bila mood sedang turun seperti sekarang ini, pasien merasa sangat sedih, tidak berdaya, tidak punya harapan, putus asa, nafsu makan kurang, lemas, ada ide bunuh diri. Keluhan yang dirasakan sudah sejak 8 tahun yang lalu. Dalam 1 hari dapat terjadi perubahan mood yang cepat.

Pada pemeriksaan status mental didapatkan mood depresif, preokupasi hidup yang sulit dan putus asa, tilikan derajat 4.
Pada pasien ini ditemukan adanya pola prilaku atau psikologis yang secara klinis bermakna dan secara khas berkaitan dengan suatu gejala yang menimbulkan penderitaan dan hendaya dalam berbagai fungsi psikososial dan pekerjaan. Dengan demikian dapat disimpulkan pasien mengalami gangguan jiwa.

Pasien tidak pernah mengalami penyakit fisik yang berbahaya/serius sehingga gangguan mental organik dapat disingkirkan . Pada pasien tidak didapatkan adanya penggunaan zat psikoaktif (hanya penggunaan ganja 1x) sehingga kemungkinan adanya gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif juga dapat disingkirkan. Tidak ditemukan adanya halusinasi, waham, sehingga gangguan skizofrenia dapat disingkirkan.

Pada pasien ini didapatkan adanya mood yang depresif dan episode depresif, riwayat episode manik dan dapat berlangsung dalam1 hari bergantian, sehingga pada pasien ini ditegakkan diagnosis : Gangguan Bipolar I episode kini campuran.

Pada pasien diberikan Asam Valproat ( Depakote ER) 250 mg 1×1 dan Cognitive Behaviour Therapy. Pada pasien dilakukan tes MMPI II dan kemudian diberikan terapi Depakote ER 250 mg dan CBT setiap minggu. Setelah 1 bulan dilakukan tes TKMI dan didapatkan terdapat perbaikan dalam gejala, kapasitas mental, dan indeks kepribadian dasar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here